-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lokakarya Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, KJRI Hamburg Hadirkan Ruang Aman untuk Saling Mendengar dan Menguatkan

Selasa, Oktober 13, 2026 | Oktober 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-13T11:40:23Z
Lokakarya Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, KJRI Hamburg Hadirkan Ruang Aman untuk Saling Mendengar dan Menguatkan


Hamburg, 10 Oktober 2026 – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg bekerjasama dengan Ruanita Indonesia, Kesmenesia, dan Life Architekture menyelenggarakan lokakarya dalam  rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia di aula KJRI Hamburg, pada 10 Oktober 2026.  Mengusung tema “Rekat Bersama, Merawat Jiwa”, kegiatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan  kesadaran akan pentingnya kesehatan mental serta membangun ruang yang aman, inklusif, dan  suportif bagi masyarakat Indonesia di Jerman Utara.  


Dalam sambutannya, Konsul Jenderal RI di Hamburg, Renata Siagian, menegaskan bahwa kesehatan  mental merupakan isu penting yang perlu mendapat perhatian bersama. Peringatan Hari Kesehatan  Mental Sedunia yang pertama kali diselenggarakan pada 1992, menjadi momentum untuk  meningkatkan kesadaran publik sekaligus mengikis stigma dan stereotip yang masih melekat terhadap  hal tersebut. “Di balik setiap angka, ada seseorang yang mungkin sedang berjuang, tetapi tidak tahu  kepada siapa harus bercerita,” ujar Renata. 


Pesan itu menjadi semakin relevan di tengah besarnya tantangan kesehatan mental di berbagai  belahan dunia. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September 2025 menunjukkan lebih  dari satu miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental. Di Jerman, riset tahun 2024 mencatat  tingginya gejala depresi atau kecemasan, dengan perempuan usia muda termasuk kelompok yang  rentan. Sementara itu, Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022  menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia berusia 10–17 tahun, atau sekitar 15,5 juta orang,  mengalami masalah kesehatan mental. 


Dalam kaitan ini tersebut, lokakarya ini bertujuan membentuk ruang aman bagi peserta untuk  mendengar dan didengar, memahami pengalaman satu sama lain, serta belajar bersama dalam  suasana yang terbuka dan penuh empati. Hal ini juga sejalan dengan komitmen KJRI Hamburg dalam  memberikan pelindungan kepada WNI dan meningkatkan kualitas pelayanan publik di wilayah kerja.  “KJRI ingin menunjukkan bahwa saudara-saudara tidak sendirian. Negara hadir bagi lebih dari 7.100  WNI di Hamburg, Bremen, Niedersachsen, dan Schleswig-Holstein,” tukas Renata. Ia turut  menekankan pentingnya kolaborasi antara perwakilan RI, komunitas, dan berbagai pemangku  kepentingan untuk memperkuat dukungan terhadap kesehatan mental. 


Lokakarya berlangsung dalam dua sesi yang saling melengkapi. Sesi ruang sadar yang difasilitasi oleh  Bayu Prihandito dari Life Architekture, mengajak peserta untuk lebih mengenali diri, memahami rasa dan emosi, serta merefleksikan apa yang sedang dirasakan. Melalui sesi ini, peserta memperoleh  kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, memberi ruang bagi diri sendiri, dan membangun  kesadaran terhadap kondisi emosional masing-masing. Sedangkan sesi kolase untuk kesehatan  mental yang dipandu oleh Nelden Djakababa-Gericke dari Kesmenesia membuka ruang bagi peserta  untuk mengekspresikan perasaan, pengalaman, serta makna personal dalam tulisan reflektif dan karya  kolase. 


Kedua sesi tersebut mampu menghadirkan ruang aman bagi peserta untuk berekspresi, mendengarkan,  dan saling menguatkan, baik secara individu maupun dalam kelompok kecil. Peserta diajak  membangun afirmasi positif sekaligus memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang  berbeda. Keberanian untuk berbicara dan kesediaan untuk mendengar menjadi fondasi penting dalam  penanganan isu kesehatan mental.

 

Secara umum, kegiatan memperoleh tanggapan positif baik dari peserta maupun fasilitator. Salah  seorang peserta, Denka, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dan memberi ruang  untuk berefleksi. “Kita bisa refleksi diri kita untuk mempunyai kesehatan mental yang lebih baik. Kita  tidak sendirian” ujarnya. Semangat untuk terus membuka ruang tentang kesehatan mental juga  disampaikan Nelden Djakababa-Gericke selaku fasilitator. “Semoga ini menjadi awal untuk kita terus  melanjutkan pembicangan mengenai kesehatan mental. Ini merupakan sesuatu yang bisa dilakukan  secara berkelanjutan” tuturnya.  


Acara diikuti oleh sekitar 40 orang yang berasal dari sejumlah kota di Jerman dan Belanda. Mereka  hadir dengan cerita dan pengalaman masing-masing namun terhubung satu pesan sederhana bahwa  kita tidak sendirian.  


Sejalan dengan semangat Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, KJRI Hamburg mengajak masyarakat  Indonesia di Jerman untuk terus menumbuhkan kepedulian terhadap kesehatan mental, dimulai dari  diri sendiri dan lingkungan terdekat. Rekat bersama merawat jiwa, karena menjaga kesehatan mental  merupakan tanggung jawab bersama. Keberanian untuk berbicara, mendengar dan didengar menjadi  penguat atas tantangan yang dihadapi di tanah rantau.

×
Berita Terbaru Update