Cilegon – Pemerintah Kota Cilegon terus mendorong langkah konkret dalam mengatasi persoalan banjir yang terjadi di sejumlah wilayah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan kapasitas gorong-gorong pada ruas Jalan Tol Tangerang-Merak yang dinilai menjadi salah satu bagian dari sistem aliran air menuju wilayah permukiman.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut atas instruksi Wali Kota Cilegon Robinsar kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Cilegon untuk menyampaikan surat kepada pengelola Jalan Tol Tangerang-Merak terkait permohonan peningkatan kapasitas gorong-gorong.
Permohonan tersebut disampaikan melalui surat Wali Kota Cilegon Nomor 600.1.4.1/1160/DPUPR tentang Permohonan Peningkatan Kapasitas Gorong-gorong Jalan Tol Tangerang-Merak.
Sebelumnya, Wali Kota Cilegon Robinsar melakukan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi yang terdampak banjir. Dari hasil tinjauan tersebut, ditemukan adanya penyempitan aliran air pada bagian gorong-gorong yang melintasi ruas tol dan diduga turut memengaruhi terjadinya genangan di kawasan Perumahan Metro Cilegon.
Menindaklanjuti surat tersebut, PT Marga Mandalasakti selaku pengelola Jalan Tol Tangerang-Merak melalui Astra Infra Toll Road Tangerang-Merak melakukan pertemuan dengan Wali Kota Cilegon di Rumah Dinas Wali Kota Cilegon, Kamis (3/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, pihak Astra Infra memaparkan hasil kajian konsultasi hidrologi pada section Cilegon yang dilakukan sebagai tindak lanjut atas kejadian banjir dan genangan di sejumlah lokasi.
Dalam pemaparan tersebut, Construction & Maintenance Management Planning Analyst Astra Infra Toll Road Tangerang-Merak, Agus Budiyanto, menjelaskan bahwa kajian hidrologi section Cilegon dilakukan sebagai tindak lanjut atas kejadian banjir dan genangan yang terjadi di 11 titik pada Ruas Tol Tangerang-Merak. “Kajian ini dilakukan untuk menindaklanjuti kejadian banjir dan genangan pada 11 titik di Ruas Tol Tangerang-Merak. Fokus kajian meliputi identifikasi penyebab, evaluasi kapasitas sistem drainase dan cross drain, serta usulan penanganan pada masing-masing lokasi,” ujar Agus.
Ia menambahkan, kajian juga mencakup kondisi geometrik jalan pada lokasi yang ditinjau, meliputi profil memanjang (longitudinal profile) dan potongan melintang (cross section) sebagai dasar analisis hidrolika dan evaluasi sistem drainase. “Kami juga melihat karakteristik aliran pada bagian inlet dan outlet, khususnya potensi turbulensi yang dapat memengaruhi kehilangan energi (head loss), kapasitas aliran, serta kinerja bangunan drainase secara keseluruhan,” jelasnya.
Menurut Agus, evaluasi turut dilakukan terhadap kapasitas hidrolis gorong-gorong eksisting dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah dilakukan pembersihan sedimen. “Perbandingan ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan kapasitas aliran setelah kegiatan pemeliharaan, sehingga dapat diketahui efektivitas penanganan terhadap kapasitas gorong-gorong yang ada,” katanya.
Sementara itu, Operation Management Department Head Astra Infra Toll Road Tangerang-Merak, Emon Sukarya, menegaskan bahwa penanganan banjir harus dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan kondisi wilayah hulu dan hilir. “Masalah banjir ini adalah masalah antara hulu dan hilir. Harapan kami, kita tidak hanya memperbaiki di wilayah kami saja, tetapi jangan sampai penanganan tersebut justru menimbulkan masalah baru di luar. Karena itu, integrasi terkait penanganan ini harus dilakukan secara komprehensif,” ujar Emon.
Terkait pelaksanaan pekerjaan, Emon menyampaikan bahwa perbaikan gorong-gorong direncanakan mulai dilaksanakan pada awal Oktober 2026 dengan estimasi waktu pengerjaan sekitar tiga bulan. “Rencananya pekerjaan tersebut akan dilaksanakan di awal Oktober. InsyaAllah sekitar tiga bulan. Namun, karena pada Desember akan memasuki periode Natal dan Tahun Baru, akan ada penghentian pekerjaan selama kurang lebih 20 hari. Sehingga pekerjaan kemungkinan dapat diselesaikan pada akhir Januari 2027,” jelasnya.
Menanggapi hasil pemaparan tersebut, Wali Kota Cilegon Robinsar menyampaikan apresiasi kepada Astra Infra Toll Road Tangerang-Merak yang telah merespons keluhan masyarakat dan melakukan kajian untuk mencari solusi terhadap persoalan banjir. “Alhamdulillah, hari ini kita dengan kawan-kawan dari Astra Infra Toll Road Tangerang-Merak membahas mitigasi ataupun konstruksi dalam rangka penanggulangan banjir, khususnya yang ada di dua titik, pertama di wilayah Metro dan di wilayah Semendaran,” ujar Robinsar.
Robinsar mengatakan, berdasarkan hasil pemaparan, proses perencanaan penanganan telah dilakukan dan selanjutnya Pemerintah Kota Cilegon bersama Astra Infra akan mendorong proses pelaksanaan pekerjaan melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). “Perencanaannya sudah ada, tinggal eksekusinya yang insyaAllah sama-sama kita akan dorong ke BPJT. Semoga di awal Oktober sudah ada perbaikan, sudah mulai progres pekerjaan, dan diharapkan awal Januari 2027 konstruksi sudah selesai,” tuturnya.
Robinsar menegaskan, penanganan persoalan banjir membutuhkan pembagian peran yang jelas antara Pemerintah Kota Cilegon dan pengelola jalan tol. Apa yang menjadi kewenangan pihak tol akan diselesaikan oleh Astra Infra, sementara persoalan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota Cilegon juga akan segera ditindaklanjuti. “Apa yang menjadi ranah tol, nanti dari Astra Infra Toll Road juga akan diselesaikan, dan apa yang menjadi ranah Pemkot, kita juga akan segera menyelesaikan,” tegasnya.
Menurut Robinsar, kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan solusi nyata terhadap persoalan banjir yang selama ini menjadi keluhan masyarakat, khususnya di kawasan Metro dan Semendaran. “Atas nama Pemerintah Kota Cilegon, kami mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan dari Astra Infra Toll Road Tangerang-Merak. Tentunya harapannya, apa yang menjadi keluhan masyarakat dengan langkah ini bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan persoalan banjir yang ada di Kota Cilegon,” pungkasnya.
Pemerintah Kota Cilegon memastikan koordinasi dan sinergi dengan berbagai pihak akan terus dilakukan dalam rangka memperkuat sistem pengendalian banjir, termasuk memastikan keterhubungan penanganan dari wilayah hulu hingga hilir. Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko genangan sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat.

