-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pengakuan Senioritas Itu Juga Datang Dari Masyarakat

Minggu, Mei 03, 2026 | Mei 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-03T13:01:48Z
Dadang RW. Tankim (kanan) dan bungsunya, Ibrahim.
Dadang RW (Kiri). Tankim (kanan) dan bungsunya, Ibrahim.


Sekolah yang sesungguhnya itu adalah masyarakat. Kalimat bijak ini mungkin ingin mengatakan, bahwa masyarakat adalah tempat sajati uji  kematangan ilmu. Tanpa disadari yang semacan itu keluar dari kejujuran seorang marboot Masjid Al-Fatah Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Muhammad Tankim A.L. tentang keberadaan sosok yang diakuinya berpengaruh itu, berlatar belakang wartawan. Setidaknya di masa lalu.


Di masa lalu Tankim sendiri guru, sedangkan sosok itu Wakil Pemimpin Redaksi sebuah koran harian “daerah” Lampung yang mengakhiri Surat Izin Terbit (SIT)-nya di “pusat”, Ibu Kota Jakarta. Dia Dadang RW yang hingga hari ini masyarakat mengenalnya “wartawan pensiun” alias Wartawan Senior.  


TANKIM kelahiran 71 tahun silam. Kini ia seorang “marbootfull”. Laki-laki asal Desa Kertajaya Jaya, (kini) Kabupaten Way Kanan, Lampung ini, memang sepenuhnya marboot Masjid Al-Fatah. (Desa Kertajaya hanya dipisahkan oleh sebuah sungai dengan Desa Mesir Ilir, asal alm. Jenderal Ryacudu, Ayah mantan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, mantan KSAD dan Menhan pada zamannya.


Cukup mengagumkan pria ini. Sebagai marboot, ia belum lama mendapat upah dari para jamaah Masjid Al-Fatah Rajabasa sebesar Rp 2,5 juta (UMR di Ibu Kota Provinsi Lampung ini sebesar Rp 3.491.889). “Keikhlasan jamaah itu sangat kami syukuri dengan Ikhlas. Ini memang sudah pilihan,” ungkap Tankim tawadhuk (catatan: sadar menikmati bahwa semua bersumber dari Allah Sang Maha pengasih lagi Maha penyang).


Suryadi (penulis)


Betapa hari-hari ini ia tak bersyukur, di kota ini ia memang sudah berniat menjadi marboot. Seperti tutup ketemu botol, ia lantas dipercaya orang banyak mengurusi kebersihan dan keamanan masjid sebagai marboot yang kebetulan diurusi secara bergantian oleh jamaahnya. “Ini sudah menjadi tekad saya sejak meninggalkan pekerjaan sebagai guru mengaji di Desa Semuli Raya,” kata ayah dua orang puteri dan seorang putera ini.


Sebelum mulai jadi marboot tahun 2002, mantan guru SLA swasta di Kota Bumi, Ibu Kota Kabupaten Lampung Utara ini, adalah guru mengaji di Semuli Raya, desa tetangga Kotabumi. Sebelumnya lagi, ia karyawan proyek Bendung Way Rarem (Lampug Utara) dan Bendung Way Jepara – Waypengubuan (Lampung Tengah, kini dimekarkan menjadi Kabupaten Lampung Timur).  


Tamatan Sekolah Guru Agama Islam ini (setara SMA dan di atas PGA 4 Tahun), 24 tahun silam hijrah ke Kota Bandar Lampung. Tekadnya yang didukung kuat keluargan, hanya satu, nengabdikan diri mengurus masjid. 


Beruntung, ia ditampung menjadi marboot di Masjid yang baru dibangun masyarakat di Rajabasa. Nama masjid itu Al-Fatah. Tak hanya pekerjaan. Ia dibangunkan pula sebuah rumah kecil di seberang masjid. Waktu itu ia diberi oleh jamaah Rp150 ribu rupiah per bulan. Alhamdulillah.


Toh dengan upah sebesar itu. dalam perjalanan hidup yang ia lalui dengan Ikhlas, ia masih diberi waktu untuk kegiatan lain yang sanafas. Ia masih sempat mengajar mengaji ke rumah-rumah. Dari para orangtua murid, ia mendapatkan sumbangan lagi.


Ia bersyukur sepanjang ibadah sebagai marboot masjid, ia sudah meluluskan ketiga orang anaknya menjadi sarjana perguruan tinggi negeri (PTN). 


Anak-anaknya itu Astarika dari program studi Bimbingan Konseling (BK) Fakultas Keguruan (FK) Unila. Astarika kini menempat rumah lain yang juga dibangunkan jamaah (belum rampung) dekat tempat ia jadi guru di sebuah sekolah swasta. Putri kedua, Adkonisa lulus dari  jurusan Pendidikan Kewargaan Negara (PKN) Unila.


Seorang lagi, Ibrahim (18) dari Program Studi BK, Fakultas Tarbiyah UIN Raden Fatah Bandar Lampung. Ibrahim dan Adkonisa masih tinggal di rumah kecil yang dibangunkan jamaah. Ia tinggal di situ bersama Ibu kandung mereka, Putu Ayu Sulastri yang asal Bali dan Tankim.        

`“Bersyukur, semua bisa jadi sarjana sesuai tekad saya hijrah ke kota ini. Semua ini rezeki dari Allah melalui Pak Dadang (berkali-kali) dan jamaah Masjid Al Fatah,” ungkap Tankim, anak ke-2 dari delapan bersaudara yang rata-rata Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau pensiunan PNS. Ayah Tankim, Fadlullah Ahmad Ladloni (alm) juga pensiunan PNS Kandepdikbud Lampung Utara di Kotabumi. 


Wartawan Senior

SIAPA Dadang RW (80) yang disebut berkali-kali oleh Tankim? Dadang berumah sekitar 200 meter dari lokasi Masjid Al-Fatah. “Alaikumsalam… silakan-silakan, wah kamu…, saya sedang menikmati nasi uduk syukuran marboot Pak Tankim ini. Anaknya yang bungsu Si Ibrahim baru lulus sarjana dari Unila,” sambut Dadang dengan suara beratnya.


Mulailah melucur pertanyaan wartawan kepadanya. Tetapi, ketika ditanya soal perannya terhadap marboot, keumatan, dan kelangsungan Masjid Al-Fatah, Dadang tampak keberatan berceritera. “Itu kan cerita Pak Tankim yang dibesar-besarkan. Itu semua sumbangan keiklhlasan jamaah. Saya kan murid tertua Pak Tankim,” akunya serius.


Tentang kiprah di Masjid, Dadang banyak terungkap dari Tankim. Dengan keilmuan bidang agama (Islam) yang sangat terbatas, kini dia duduk sebagai “tua-tua” atau Penasihat. Bersamanya, antara lain Mahmudin (ketua umum), Tohar (sekretaris umum), dan Ir. Muhtar Hasan (bendahara). Hampir semua pengurus pensiunan PNS. Hanya dia yang bukan. Ia bersitrikan Yatimah Murni, seorang pensiunan guru/PNS di Ibu Kota provinsi Lampung.  Dadang pernah menjadi Ketua yang ke-3 Al- Fatah, masjid yang tak sebesar dan sepuler Masjid Jogokariyan, Yogyakarta ini.


Tentang kewartawanan, Dadang mengakui, hari-hari ini memang tergabung dalam grup komunikasi para wartawan senior Lampung. Tinggal dia yang paling tua karena seperti Azis Kasyim, Harun Muda Indra Jaya, Dhani, dan Martubi Makki sudah berpulang. 


Di masa lalu, ia terakhir ia Wakil Pemimpin Redaksi koran harian Daerah Lampung “LENSA”. Terakhir beralih nama LENSA GENERASI”  terbit di Jakarta, dengan pemodal Agi Tjetje. Pemimpim Redaksinya Azis Kasyim, dan Pemimpin Umum Solichin Bukujadi. Nama “LENSA GENERASI” disebutkan oleh Menpen (waktu itu) Ali Moertopo (alm) dalam SK pembatalan Surat Izin Terbit (SIT)-nya. “Kami tidak dicabut, melainkan dibatalkan SIT-nya,” ungkap Dadang bersemangat,


Ketika bicara tentang koran dan dikatakan kini telah berdiri Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI), tampak gairahnya sebagai pewarta hidup lagi. Tetapi, kini dia sudah beda, meski tetap dikenal masyarakat sekitarnya sebagain “Wartawan Pensiun”.


Dari jamaah sekitar masjid, terutama Tankim, terungkap singkat saja (rupanya, Dadang sudah minta tidak berceritera banyak hal tentang dirinya dalam peribadatan). Meski, ilmu agamanya pas-pasan, seperti pengakuannya terus terang tentang dirinya, ternyata dia cukup didengar pendapatnya oleh pengurus dan jamaah.  


“Ya itulah semua tentang kami, ya berkat Pak Dadang dan jamaah di sini. Termasuk saya dan keluarga, ya berkat keikhlasan Pak Dadang dan jamaah semua,” begitu kata Tankim.    


Organiasi SWSI dideklarasikan oleh para pendirinya, seperti Kemal Gani, Budiman Tanuredjo, dan Wahyu Muryadi di Jakarta, Jumat 17 Maret 2026 malam. Tujuannya, menyumbangkan intelektual kesenioran wartawannya kepada masyarakat berdasarkan pengalaman mereka yang telah menjadi saksi hidup perjalanan bangsa Indonesia. 


Lebih kurang Sang Ketua Umum Wahyu Muryadi SWSI malam itu menyampaikan tekat SWSI juga menjadi wadah bagi para wartawan senior  menyumbangkan kadar intelektual pemikirannya yang telah menjadi saksi hidup perjalanan bangsa dan Negara ini. 


Di Indonesia, Lampung khususnya, yang kerap diramaikan oleh tindak pidana korupsi alias maling uang negara,  pernyataan itu, tentunya akan sangat terkait dengan  “moral estafet”. Ini seperti tergambar dengan kehadiran 100-an wartawan senior malam itu, termasuk Panda Nababan yang kini 82 tahun dan generasi pelanjut Meutia Viada Hafid yang (mungkin) masih 50-an. Di masa lalu Meutia adalah wartawan sebuah stasiun TV swasta. Meutia kini Menteri Komunikasi dan Digital  (Menkomdigi) RI.


Dan, Dadang RW sipa mengesyafetkan apa yang dia bisa kepada genarasi pelanjut jurnalis penganut jurnalisme dalam keadaan dunia cepat berubah ini.  Ia telah membuktikan bahwa masyarakat tempat langsung membuktikan sekaligus belajar banyak. Ia telah menjadi saksi hidup sebagai “tokoh intelektual” perkembangan masyarakat pada bangsa ini.** --E/ADI/DADANG – ALFATAH--

×
Berita Terbaru Update